Jantungku melonjak. Aku ingin mengucapkan semuanya, membuka isi hatiku yang selama ini kubawa. Namun kata-kataku kembali macet. Karena dalam kenyamanan itu ada batas yang tak bisa kulanggar. Aku menelan rasa itu dan balas tersenyum, berkata, "Aku juga, Natsu. Aku juga merasa... nyaman." Jawabanku boleh jadi samar, tetapi penuh kebenaran berbeda dari yang kutahu sendiri.
Suatu musim semi, ketika bunga sakura mulai berguguran, Natsumi mengajakku keluar. Kami duduk di taman kecil dekat stasiun, di bawah pohon yang bermekaran. Angin lembut membawa kelopak-kelopak tipis; langit cerah, dan aku merasakan detik-detik seperti melambat. Natsumi menatapku lama, lalu berkata, "Kaito, aku ingin bilang sesuatu. Terima kasih sudah selalu ada untukku. Aku—" Dia terdiam, menggigit bibirnya. Napasku tertahan. "Aku merasa nyaman setiap kali bersamamu." anehame ore no hatsukoi work
Semua bermula ketika aku menyadari betapa kukenal Natsumi. Dia menaruh novel di meja belajarku tanpa berkata apa-apa; dia tahu aku menyukai lagu lama dan sering memutarnya di kamar ketika aku pulang. Suatu malam, waktu hujan turun deras, listrik padam. Kami duduk di ruang tamu dengan hanya cahaya lilin. Natsumi mengeluarkan kotak foto tua dan tersenyum, mengisahkan masa kecil kami. Aku mendengar suaranya bergetar halus saat dia bercerita tentang ayah yang dulu selalu lupa dompetnya. Di sana, di tengah gelap, hatiku berdetak kencang—bukan hanya karena nostalgia, melainkan karena kedekatan itu terasa seperti sesuatu yang tak boleh kusebut. Jantungku melonjak
Saya akan membuat cerita pendek berjudul "Ane: Ore no Hatsukoi" (Kakak Perempuan: Cinta Pertamaku). Aku masih ingat bau hujan pada sore itu—segar, sedikit asam, membawa kenangan yang tak pernah hilang. Namaku Kaito, dua puluh satu tahun, mahasiswa tahun kedua yang lebih sering menghabiskan hari di perpustakaan daripada di luar. Di rumah, ada satu orang yang membuat hari-hariku selalu berubah: Natsumi — kakakku yang lebih tua tiga tahun. Karena dalam kenyamanan itu ada batas yang tak
Tamat.
Di malam setelah pernikahan, di balkon apartemen kecil kami, aku melihat ke langit penuh bintang. Angin membawa aroma bunga yang sama seperti saat kami anak-anak. Aku menarik napas dalam-dalam dan tersenyum pelan. Natsumi pernah menjadi segala yang kusuka dan segala yang tidak boleh kumiliki. Kini ia adalah kenangan yang manis, pengingat tentang bagaimana hati bisa tumbuh, terluka, dan kemudian sembuh. Hatsukoi-ku bukan lagi beban, melainkan pelajaran — tentang kasih sayang, pengorbanan, dan dewasa.
Namun sebelum aku bisa menyelesaikan kalimat itu, dia membuka mata, menatapku dengan tatapan hangat yang selalu kulihat sejak kecil. "Kaito," katanya pelan, "kamu kelihatan lelah. Istirahatlah." Dia menggenggam tanganku kembali seperti biasa—penuh kasih sayang dan kepedulian, tanpa petunjuk lain. Kata-kataku tertelan.